Kamu pernah mikir tidak, kenapa semua mesin canggih di dunia ini butuh jadwal maintenance? Dari mesin Ferrari sampai generator pabrik, semuanya punya protokol untuk berhenti. Kalau dipaksa lari 24 jam dalam sehari selama 7 hari tanpa henti? Tinggal tunggu waktunya sampai menjadi rongsokan.
Selamat datang di tubuh kamu. Sebuah mesin biologis paling kompleks yang sering kali kita perlakukan secara biadab.
Bayangkan tubuh kamu itu sebuah gudang. Tiap kali kamu makan, kamu masukin barang (energi). Masalahnya, kita hidup di era baring adalah rutinitas paling favorit tiap harinya, apalagi smartphone sudah dalam genggaman. Hal inilah yang akan mengakibatkan "surplus" Jadi budaya dalam tubuhmu. Masuknya 10, keluarnya cuma 2.
Secara matematis, dapat dijelaskan seperti ini, Sisa itu sama dengan masukan dikurangi dengan pengeluaran, jadi jika kamu memasukkan 10 dan keluarnya hanya 2 maka akan ada sisa 8, bayangkan jika secara terus menerus selama bertahun-tahun terjadi hal yang seperti itu, hasilnya adalah "sampah biologis". Protein yang rusak, sel-sel tua yang tidak mau mati, dan lemak yang menyumbat jalur komunikasi antar sel.
Tanpa puasa, angka ini bakal terus naik sampai sistem kamu jadi error (inflamasi kronis).
Autofagi: Fitur "Recycle" yang Terlupakan
Ada satu kutipan legendaris dari sains modern (Profesor Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel) tentang apa yang terjadi saat tubuh lapar: Autofagi. Secara harfiah artinya "memakan diri sendiri".
Kedengarannya serem? Tidak. Itu justru survival mode yang cerdas.
Pas tubuh tidak dapat asupan dari luar, dia tidak langsung mati. Dia mulai bersih-bersih. Dia cari sel-sel yang rusak, protein yang basi, dan kotoran di dalam darah untuk dijadikan bahan bakar. Simpelnya survival mode dapat disingkat "Kami membiarkan tubuh lapar agar sel yang sehat bisa memangsa sel yang sampah."
Tanpa puasa, fitur "Recycle" ini tidak pernah aktif. Bayangkan rumah kamu tidak pernah dibuang sampahnya selama 20 tahun. Itulah kondisi organ dalam kamu, kalau mulut kamu tidak pernah berhenti ngunyah.
Bahaya terbesar kalau tidak pernah puasa bukan di perut, tapi di Insulin. Tiap kali kamu makan, Insulin naik buat ngantar gula. Kalau kamu makan terus, Insulin siaga terus. Lama-lama, sel kamu "budek" (Resistensi Insulin). Dia tidak mau denger lagi perintah Insulin.
Di sinilah matematika tubuh jadi rusak total. Gula darah berantakan, energi tidak bisa masuk ke sel, dan kamu malah makin merasa lapar padahal cadangan makanan melimpah. Itu namanya kelaparan di tengah hujan makanan.
Strategi Sang Pencipta
Tuhan tidak menurunkan perintah Puasa Ramadhan cuma buat ngetes kesabaran kamu untuk nahan lapar dan haus. Itu adalah Reset Button yang "dipaksa" aktif setahun sekali.
Tuhan tahu kita ini makhluk yang tidak punya "rem" kalau soal urusan perut.
Kita sering kali "dzolim" sama diri sendiri demi kesenangan sesaat. Maka, Ramadhan adalah instruksi manual agar mesin biologis ini tidak overheat.
Satu bulan penuh adalah waktu yang cukup secara matematis untuk:
* Membersihkan akumulasi sampah seluler (Autofagi).* Memperbaiki sensitivitas insulin yang sudah "budek".* Mengembalikan kontrol logika di atas nafsu biologis.
Jadi, pas kamu denger adzan maghrib, jangan cuma pikirin takjil. Pikirin kalau sel-sel di tubuh kamu baru saja selesai perang besar demi menyelamatkan nyawa kamu dari kehancuran sistemik. Dan yang terpenting sistem ini tidak peduli puasa pertama kamu ikutin mashab nya siapa. Hehehe.
Selamat berpuasa
