irfaniproject Portal

Solusi Hunian & Pendidikan Berkualitas

Prof. KHAS




Sekitar tiga tahunan saya mengenal beliau, baik dengan perjumpaan langsung maupun melalui tulisan-tulisan beliau. Walaupun dengan waktu yang singkat itu, saya sudah banyak belajar dari beliau. Salah satunya adalah bagaimana agar mahasiswa tetap fokus dalam mengikuti kuliah sampai akhir. Kuncinya kata beliau ada pada menit-menit awal. 

Kalau kita mencermati tulisan, ceramah, khotbah, sambutan-sambutan beliau maka kita akan menemukan bagaimana seorang pendidik yang sangat memanfaatkan menit-menit awal untuk memikat pembaca atau pendengar untuk fokus sampai pada akhir. Sejak awal, beliau sudah memikat perhatian pembaca atau pendengar untuk menyimak sampai akhir.

Hampir semua yang bergelut dalam dunia pendidikan mengetahui pentingnya menit-menit awal dalam proses pembelajaran, namun, sangat sedikit yang menerapkannya baik dalam kuliah maupun dalam tulisannya. Tetapi Prof. Dr. Kamaruddin Hasan. S.Ag., M.Pd. Menurut yang saya amati sangat piawai dalam menggunakan prinsip tersebut.

Mari coba kita perhatikan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Kamaruddin(sapaan kami untuk beliau) saat pengukuhan Profesor beliau 30 Juli 2026. Karena mendapat giliran tampil terakhir, beliau memanfaatkan momentum itu dengan sangat baik. Memulai dengan menjumlahkan seluruh Profesor yang dikukuhkan pada periode kali ini, (yang pastinya hasil penjumlahan beliau tepat, tidak sama seperti yang menjuluki dirinya “Singa Asia” , menjumlahkan 10+6 =17). Kembali ke pembukaan orasi ilmiah beliau, 6 orang profesor pada hari sebelumnya ditambab 5 Profesor pada hari itu sehingga berjumlah 11 dan beliau tampil diurutan ke 11, kemudian mengaitkannya dengan plat mobil PLT Rektor UNM, kita maknai masing-masinglah... Hehehe. Tapi dengan pembuka ini maka setiap yang mendengar akan punya penafsirannya sendiri sehingga akan menarik fokus pendengar.

Kemudian prof melanjutkan dengan mengaitkan banyak Profesor yang dilantik dengan rukun iman dan rukun Islam 6 dan 5 di mana 6 rukun iman dan 5 rukun Islam. Sebuah transisi yang sangat Alamiah karena keduanya adalah fondasi untuk umat muslim dalam menjalankan kesehariannya. Dengan bermain angka, beliau memainkan hati dan logika para pendengarnya.

Belum lagi ketika kita mengkaji isi dari orasi ilmiah beliau, memiliki gagasan penting terutama terkait dengan mengembalikan pendidikan kepada nilai-nilai kemanusiaan sebagai subjek pemakna. Namun gagasan itu butuh ruang khusus untuk dibahas. Sehingga saya tidak membahasnya pada kesempatan kali ini, Semoga bisa saya tuliskan dilain waktu.

Pada akhir orasinya, beliau menyampaikan sebuah kalimat Bugis yang beliau artikan “kecerdasan dapat dikalahkan oleh pembiasaan, pembiasaan dapat dikalahkan oleh pertimbangan, pertimbangan dapat dikalahkan oleh takdir dan takdir dapat dikalahkan oleh pertolongan Allah SWT, dan saya insya Allah ada pada bagian terakhir” ucap beliau. Jika dikaitkan dengan pemaparan beliau yang isinya daging semua dengan kalimat penutup itu kita dapa melihat pula sosok beliau yang merendah, dengan menggantungkan semuanya kepada Allah SWT, oleh karena itu juga selain memanggil beliau Prof, kami juga sering memanggil beliau dengan panggilan ustaz. 


Selamat Prof. 

Semoga berkah dan selalu menginspirasi.

1

ada apa dengan blog saya

Tanpa Diperintah Tubuhmu Harus Berpuasa




Logika Mesin Tanpa Tombol "Off" 

Kamu pernah mikir tidak, kenapa semua mesin canggih di dunia ini butuh jadwal maintenance? Dari mesin Ferrari sampai generator pabrik, semuanya punya protokol untuk berhenti. Kalau dipaksa lari 24 jam dalam sehari selama 7 hari tanpa henti? Tinggal tunggu waktunya sampai menjadi rongsokan. 

Selamat datang di tubuh kamu. Sebuah mesin biologis paling kompleks yang sering kali kita perlakukan secara biadab.

Bayangkan tubuh kamu itu sebuah gudang. Tiap kali kamu makan, kamu masukin barang (energi). Masalahnya, kita hidup di era baring adalah rutinitas paling favorit tiap harinya, apalagi smartphone sudah dalam genggaman. Hal inilah yang akan mengakibatkan "surplus" Jadi budaya dalam tubuhmu. Masuknya 10, keluarnya cuma 2.

Secara matematis, dapat dijelaskan seperti ini, Sisa itu sama dengan masukan dikurangi dengan pengeluaran, jadi jika kamu memasukkan 10 dan keluarnya hanya 2 maka akan ada sisa 8, bayangkan jika secara terus menerus selama bertahun-tahun terjadi hal yang seperti itu, hasilnya adalah "sampah biologis". Protein yang rusak, sel-sel tua yang tidak mau mati, dan lemak yang menyumbat jalur komunikasi antar sel. 

Tanpa puasa, angka ini bakal terus naik sampai sistem kamu jadi error (inflamasi kronis). 

Autofagi: Fitur "Recycle" yang Terlupakan 

Ada satu kutipan legendaris dari sains modern (Profesor Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel) tentang apa yang terjadi saat tubuh lapar: Autofagi. Secara harfiah artinya "memakan diri sendiri". 

Kedengarannya serem? Tidak. Itu justru survival mode yang cerdas. Pas tubuh tidak dapat asupan dari luar, dia tidak langsung mati. Dia mulai bersih-bersih. Dia cari sel-sel yang rusak, protein yang basi, dan kotoran di dalam darah untuk dijadikan bahan bakar. Simpelnya survival mode dapat disingkat "Kami membiarkan tubuh lapar agar sel yang sehat bisa memangsa sel yang sampah." 

Tanpa puasa, fitur "Recycle" ini tidak pernah aktif. Bayangkan rumah kamu tidak pernah dibuang sampahnya selama 20 tahun. Itulah kondisi organ dalam kamu, kalau mulut kamu tidak pernah berhenti ngunyah. 

Bahaya terbesar kalau tidak pernah puasa bukan di perut, tapi di Insulin. Tiap kali kamu makan, Insulin naik buat ngantar gula. Kalau kamu makan terus, Insulin siaga terus. Lama-lama, sel kamu "budek" (Resistensi Insulin). Dia tidak mau denger lagi perintah Insulin. Di sinilah matematika tubuh jadi rusak total. Gula darah berantakan, energi tidak bisa masuk ke sel, dan kamu malah makin merasa lapar padahal cadangan makanan melimpah. Itu namanya kelaparan di tengah hujan makanan

Strategi Sang Pencipta 

Tuhan tidak menurunkan perintah Puasa Ramadhan cuma buat ngetes kesabaran kamu untuk nahan lapar dan haus. Itu adalah Reset Button yang "dipaksa" aktif setahun sekali. Tuhan tahu kita ini makhluk yang tidak punya "rem" kalau soal urusan perut. 

Kita sering kali "dzolim" sama diri sendiri demi kesenangan sesaat. Maka, Ramadhan adalah instruksi manual agar mesin biologis ini tidak overheat. Satu bulan penuh adalah waktu yang cukup secara matematis untuk: 

* Membersihkan akumulasi sampah seluler (Autofagi). 
* Memperbaiki sensitivitas insulin yang sudah "budek". 
* Mengembalikan kontrol logika di atas nafsu biologis. 

Jadi, pas kamu denger adzan maghrib, jangan cuma pikirin takjil. Pikirin kalau sel-sel di tubuh kamu baru saja selesai perang besar demi menyelamatkan nyawa kamu dari kehancuran sistemik. Dan yang terpenting sistem ini tidak peduli puasa pertama kamu ikutin mashab nya siapa. Hehehe. 

Selamat berpuasa

Katalog Kamar Kos Khusus Perempuan